----

16 Agustus 2008

15 Agustus 2008

CLIFFORD GEERTZ

CLIFFORD GEERTZ1

Upaya untuk memahami karakteristik masyarakat Indonesia telah banyak dilakukan oleh sarjana barat, namun nama Clifford Geertz mendapat tempat yang istimewa. Pengaruh Geertz sangat terasa di jamannya, karena anallisisnya dinilai yang paling tajam dan mendekati kenyataan. 


Dalam sejarah nasional, Jawa menduduki porsi terbanyak dalam penagaruhnya bagi perkembangan bangsa. Masyarakat jawa digolongkan oleh Geertz menjadi tiga golongan besar yaitu: santri, priyayi dan abangan. Tipologi ini didasari keyakinan agama, nilai etis, dan ideology politiknya. Sepanjang beberapa decade, tipologi Geertz mampu digunakan sebagai landasan teori dalam menjelaskan tentang gejala social dan politik di tanah air. Dalan The Religion of Java, karya marterpiece geertz yang terbit tahun 1960, ia mempopulerkan konsep afiliasi politik aliran dan primordialisme.
Lelaki tegap berjanggut lebat ini lahir di san Francisco, California pada 23 Agustus 1926. sebelum menekuni antropologi, geertz sempat menjadi prajurit Angkatan Laut AS. Seusai perang Dunia II, ia kuliah di Antioch College, Ohio danmeraih gelar sarjana tahun 1950. enam tahun kemudian ia meraih gelar doctor dari Harvad University. Sampai akhir tahun 1970-an, Geertz mengajar University of Chicago. Pada tahun yang sama, ia dikukuhkan sebagai Guru besar di Institute for Advanced Study di Unversitas Princeton.


Geert adalah penganut aliran antropologi simbolis. Karenaitu dalam studi dan diskusi teorinya ia mencoba masuk dalam konteks tata nilai para pelakunya. Ia tak sekedar melihat gejala social yang tampak di permukaan. Beberpa buku hasil karyanya a.l. Peddlers and Prince, Agricultural Involution, Islam Observed Person, Time and Conduct in Bali, The Interpretation of Cultures, Local Knowledge: Further Essays in Interpretative Anthropology, Work and Lives: The Anthropologist as Author dan After the Fact.


Geertz dianggap terlalu menggeneralisasi pandangan tentang kebudayaan Jawa. Hasil penelitiannya di Desa Mojokerto (konon sebenarnya adalah di Deerah Pare di Kediri), tak cukup lagi untuk meneropong reaillitas di abad 21. perkembangan zaman membuat tipologi Geertz manjadi aus. Akan tetapi ia tetap memiliki sumbangan besar untuk menganalisis realitas yang terjadi di masyarakat kita. Contohnya, dalam pilkada Jatim 2008, banyak pengamat politik dan social yang masih menyinggung dan memakai tipologi Geertz dalam menganalisis masyarakat terutama wilayah “Mataraman”.


Dalam pemilu tahun 2009 mendatang, tipologi Geertz akan tetap di perhitungkan untuk mengalisi perilaku politik masyarakat Jawa, karena Jawa adalah pulau berpenduduk mayoritas di Indonesia yang akan menjadi target dari parpol dan capres.